Sadar atau Tidak, Aktivitas Kita yang Terhubung dengan Internet Berkontribusi dalam Global Warming

Global-Internet

Mungkin kita semua sekarang ini tidak menyadari bahwa sebenarnya, selain karena aktivitas penggunaan bahan bakar, aktivitas online atau saat kita terhubung dengan internet melalui berbagai macam media juga secara tidak langsung memiliki kontribusi besar terhadap perubahan iklim dan global warming.

Ketika kita terhubung dengan internet dan kemudian menyimpan dan mengunggah data melalui berbagai tempat penyimpanan yang mana termasuk juga di dalamnya adalah cloud, maka ke semua itu akan tersimpan dalam super-komputer yang dikenal dengan nama server.

Ada kurang lebih 10 ribu data tersimpan dalam satu data center di antara puluhan atau bahkan ratusan data center lainnya di seluruh dunia.

Sayangnya, untuk dapat mengaktifkan dan mengoperasikan server termasuk segala hal yang terkait dengan perangkat tersebut membutuhkan energi listrik yang sangat besar.

Data-Center

Dalam satu data yang dipublikasikan Mashable.com yang mengutip dari Yale Environment 260, satu data center dalam lingkup kecil saja mengonsumsi energi listrik besar yang setara dengan energi listrik untuk satu kota, apalagi yang sangat besar.

Dan mayoritas energi listrik yang ada sekarang ini merupakan hasil dari pengolahan bahan bakar yang berasal dari fosil atau dari sumber daya yang tak dapat diperbarui.

Bahkan di Citadel atau data center terluas dan terbesar di dunia yang berada di Nevada, Amerika Serikat membutuhkan 650 megawatts untuk dapat mengoperasikannya dan tentunya akan butuh lebih banyak energi listrik dibanding data center pada umumnya.

Selain akan menguras sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui, dengan semakin banyaknya data yang tersimpan, perangkat komputer akan mengeluarkan emisi panas yang sama dengan tingkat dari kadar CO2 di udara sekarang ini.

Kontribusi seperti itulah yang dikatakan bahwa kita sebenarnya secara tidak langsung berkontribusi besar dalam perubahan iklim dan menciptakan global warming tanpa harus menggunakan sumber daya alam yang tak bisa diperbarui melalui kendaraan bermotor.

Perubahan iklim dan global warming tersebut akan menciptakan pergantian cuaca dan iklim di berbagai tempat di dunia tak lagi menentu, naiknya tingkat permukaan air laut, suhu panas semakin naik  dan banyak lagi lainnya.

Memang di Islandia, Swedia dan Finlandia, sekarang ini sudah meninggalkan energi listrik dalam mengoperasikan data centernya karena beralih menggunakan tenaga matahari dan hydroelectricity.

Data-Center-2

DigiPlex yang digunakan data center di Stockholm mampu menghasilkan panas yang mana dapat menghangatkan lebih dari 10 ribu rumah. Sayangnya, jumlah data center seperti itu masih sangat sedikit jika dibandingkan dengan data center yang menggunakan sumber daya alam yang tak terbarui.

Terlebih lagi, baik yang menggunakan sumber daya alam yang tak terbarui atau juga tenaga matahari atau hydroelectricity, ke semuanya masih memiliki kontribusi terhadap naiknya suhu di bumi.

Menurut data yang dikeluarkan oleh Cisco, sebuah perusahaan jaringan dan IT terkenal di dunia, pada tahun 2021 mendatang, trafik internet secara global akan mencapai 278 miliar gigabyte per bulannya yang mana meningkat sebanyak 96 miliar jika dibandingkan pada tahun 2016 lalu.

Ditambah lagi jika semakin banyak orang yang mengakses video streaming atau video online, maka semakin banyak energi listrik yang dibutuhkan oleh sebuah data center.

Lantas bagaimana untuk menanggulangi hal tersebut? Sayangnya, sampai sekarang ini belum ditemukan solusi pasti untuk mengatasi masalah itu.

Banyak pihak yang sudah menyadarinya, namun kebutuhan setiap orang di seluruh dunia akan internet dari waktu ke waktu semakin meningkat yang mana membuat segala hal semakin tidak dapat dikendalikan lagi.

Author: Are Zuiger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *