Beda Apple dan Facebook, Kita Tidak Pernah Menjadikan Konsumen Sebagai Produk

Iphone-Vs-Facebook

Pada bulan April 2018 lalu, hampir seluruh dunia heboh karena ada jutaan data pengguna Facebook secara mudah dipanen oleh sebuah lembaga konsultan politik yang berasal dari London, Inggris bernama Cambridge Analytica.

Dengan bocornya data tersebut, memang Cambridge Analytica sempat menjadi sorotan namun perhatian utama publik lebih tertuju pada Facebook sendiri yang sejak sedari awal mengatakan bahwa sistem keamanan mereka berlapis dan susah untuk ditembus, akan tetapi pada kenyataannya ada pihak lain yang memanen data penggunanya secara bebas.

Oleh karena itu, wacana gugatan class action muncul karena merasa dirugikan oleh Facebook terkait dengan bocornya data mereka tersebut. Bahkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan pengguna Facebook terbesar di dunia juga melakukan hal yang sama.

Terkait dengan masalah tersebut, co-founder Apple, Steve Wozniak mengatakan bahwa Facebook memiliki sistem keamanan yang mudah jebol dan hal itulah yang menyebabkan dirinya menutup akun pribadi miliknya.

Bahkan tidak tanggung-tanggung, Woz atau panggilan dari Steve Wozniak memberikan kritik tajam kepada Facebook yang mana menurutnya menjadikan penggunanya sebagai target iklan dan dijadikan ladang keuntungan atau memonitizing penggunanya untuk tujuan tertentu.

Woz juga mengatakan bahwa hal itulah yang membuat perbedaan mendasar antara Apple dan Facebook. Menurut Woz, Apple sangat menghormati data pribadi penggunanya dan akan melakukan segala macam cara untuk melindunginya.

Bahkan untuk mengaksesnya pun, pihak Apple tidak ingin melakukannya, biarpun mereka sangat leluasa melakukannya.

Hal itu berbeda dengan Facebook. Woz mengatakan, Facebook mendulang keuntungan dari halaman atau bahkan data apapun yang dimiliki penggunanya dan kemudian dijadikan ladang bisnis ke para pengiklan.

social-media

“Para pengguna menambahkan dan menciptakan berbagai macam hal yang akhirnya terkumpul menjadi data pribadi di akun Facebook pribadi mereka dan Facebook sendiri membuat data-data itu sebagai ladang untuk mendulang keuntungan melalui iklan.

Keuntungan yang didapatkan Facebook berdasarkan dari info atau data pengguna, sedangkan pengguna tidak mendapatkan apapun dari hal tersebut,” ungkap Woz.
“Memang Apple juga membutuhkan pengguna atau konsumen sebagai pembeli produk, akan tetapi kita mencari keuntungan berdasarkan produk dan kualitas yang kita ciptakan, bukan dari Anda semua sebagai pengguna.

Akan tetapi, Facebook menjadikannya pengguna sebagai produk. Itu bedanya.”Apa yang dikatakan Woz tersebut juga cukup beralasan karena pada bulan April 2018 lalu, COO Facebook, Sheryl Sandberg saat menghadiri acara interview.

NBC’s Today Show mengatakan bahwa jika para pengguna ingin menghentikan Facebook memonitizing mereka atau dalam kata lain agar para pemilik jejaring sosial, termasuk Facebook berhentik menggunakan data pribadi mereka, maka mereka harus membayar agar mendapatkan previlege.

Namun ketika ditanya mengenai rumor bahwa Facebook sengaja mengumpulkan data penggunanya dan kemudian menjualnya kepada para pengiklan, Sandberg membantahnya dan justru mengatakan bahwa para penggunalah yang mempesilakan diri untuk dijadikan target iklan.

“Hal itu tidak benar sama sekali kita tidak pernah menjual data, kapanpun itu. Kita tidak pernah memberikan data pengguna kami kepada para pengiklan.

Banyak orang datang ke Facebook dan mereka ingin menjadikan diri mereka sendiri sebagai target iklan dan hal itu merupakan salah satu hal penting,

khususnya bagi pelaku industri kecil. Kita membantu mereka (para pengiklan kecil), kita mempublikasikannya akan tetapi kita tidak pernah memberikan akses kepada mereka untuk mengetahui data pribadi pengguna,” ungkap Sandberg.

Author: Are Zuiger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *