WHO Secara Resmi Masukkan Kecanduan Video Game ke Dalam Kategori Penyakit Khusus

Memang sudah sejak beberapa tahun belakangan ini video game dirasa menjadi salah satu ‘penyakit’ yang menjangkiti banyak orang, terutama anak-anak, remaja dan kawula muda lainnya.

Dikatakan sebagai penyakit karena ada tingkat kecanduan yang beranjak dari level biasa menjadi kronis ketika seseorang sudah terlalu sering memainkan jenis permainan digital ini.

Bahkan baru-baru ini lembaga kesehatan dunia, World Health Organisation (WHO) pada hari Senin (18/6) kemarin mengumumkan secara resmi bahwa gaming disorder adalah suatu kondisi yang dimasukan dalam kategori International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems.

Pihak WHO sendiri tidak menuduh bahwa setiap orang yang bermain game-game digital, baik di konsol, perangkat mobile mereka, via PC/laptop dan dari media lainnya akan langsung menjadi pesakitan.

namun organisasi tersebut menjelaskan bahwa kondisi tersebut akan didapatkan dan dirasakan bagi seseorang yang secara terus menerus memainkan permainan digital dan merasa tidak dapat terlepas darinya.

Keputusan WHO untuk memasukkan kecanduan video game termasuk dalam International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems ini sekaligus mematahkan opini penolakan yang pernah dilontarkan oleh American Psychiatric Association (APA) pada thaun 2013 lalu.

Pada saat itu, pihak APA menolak memasukkan kecanduan video game termasuk ke dalam kategori International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems.

Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, karena menurut mereka tidak ada bukti nyata bahwa memang bermain video game dapat merusak mental seseorang.

Dalam penjelasannya, WHO mengatakan bahwa jika seseorang telah memainkan permainan elektronik dan digital tersebut selama berturut-turut atau sekitar 12 bulan lamanya, maka akan ada perubahan kebiasaan.

Hal tersebutlah yang menjadi bukti bahwa kecanduan video game dapat dikatakan penyakit mental dan dimasukkan dalam kategori Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders serta

International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems. Dijelaskan pula bahwa sampai saat ini diperkirakan sudan ada lebih dari 2 miliar orang di seluruh dunia yang kecanduan bermain permainan elektronik dan digital.

Bahkan tidak sedikit di antara mereka menjadi susah disembuhkan walaupun sudah melakoni treatment atau rehabilitasi.

Selain itu, akan menjadi satu hal yang cukup menyusahkan bagi diri sendiri atau keluarga karena sampai sekarang tidak ada perusahaan asuransi yang mau memberikan perlindungan terhadap seseorang yang kecandungan video game.
Selain dapat menjadikan kecanduan, bermain permainan elektronik dan digital ini juga dapat membuat seseorang menjadi lebih mudah dehidrasi.

Mengalami kelelahan tingkat tinggi, mengalami masalah pada ginjal sampai dengan risiko paling parah adalah membuatnya meninggal dunia.

Bukan suatu hal yang berlebihan jika dikatakan bahwa memang risiko yang didapatkan dari bermain game secara terus menerus tanpa henti cukup besar.

Apabila seseorang sudah sangat kecanduan, maka orang yang bersangkutan akan lebih memilih berlama-lama di depan layar daripada harus menggerakkan badan atau olahraga.

Terlebih lagi, jika terlalu lama duduk, maka tubuh akan kehilangan banyak zat cair dan membuat rasa lelah yang teramat sangat.

Tidak hanya itu saja, akan ada kebiasaan sepele, yaitu menahan membuang air kecil karena terlalu asik bermain. Padahal menahan diri.

Untuk buang air kecil ini justru dapat membuat penumpukan kristal khusus yang nantinya bakal menjadi batu ginjal dan membuat ginjal dan saluran kencing bermasalah.

Dan jika sudah terlalu kronis, maka kesehatan akan semakin melemah dan risiko kematian juga tidak dapat dihindari.

Author: Are Zuiger

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *